Jurnalis : Nawangsari
Pasuruan, Derapkeadilan.com – Mengelola sebuah gelaran besar keagamaan yang melibatkan ribuan massa bukanlah perkara mudah. Diperlukan sinergi matang antara manajerial yang solid dan dukungan penuh dari akar rumput. Keberhasilan inilah yang ditunjukkan secara elegan oleh Panitia Pengajian Umum dalam rangka Haul Bujuk Abdullah dan Mbah Siti Rubai’yah, yang memuncak pada pertengahan Agustus ini.Berpusat di Dusun Pendopo Timur, Desa Branang, Kecamatan Lekok, Kabupaten Pasuruan.
Rangkaian haul ini tidak sekadar menjadi ritual tahunan. Acara ini menjelma menjadi simbol hidup dari gotong royong dan spiritualitas yang terjaga.
Manajemen Waktu dan Kedisiplinan Acara Ketajaman panitia dalam merancang garis waktu (timeline) acara menjadi kunci utama kekhusyukan ritual ini. Rangkaian acara dibuka pada Kamis malam (13/08/2026) pukul 18.00 WIB dengan pembacaan Yasin dan tahlil yang berlangsung khidmat.Tanpa jeda yang berlarut-larut, panitia langsung melanjutkan agenda dengan Khotmil Qur’an tepat pada pukul 19.00 WIB. Ketepatan waktu ini mencerminkan manajemen organisasi yang modern, terukur, dan menghargai waktu para jemaah.
Puncak Acara: Trias Mubaligh yang Memukau Memasuki hari Jumat (14/08/2026) pukul 13.00 WIB, suasana Dusun Pendopo Timur semakin bergetar saat ribuan jemaah memadati area Pengajian Umum. Panitia berhasil menghadirkan konfigurasi tiga penceramah karismatik yang memberikan asupan spiritual berbobot:
KH Badrus Shofi (Rembang, Pasuruan): Membawa kedalaman ilmu fikih dan tasawuf yang disampaikan dengan bahasa lugas.
KH Muslim Ikrom (Rembang, Pasuruan): Memberikan ulasan sosial-keagamaan yang kontekstual dan menyentuh realitas hidup masyarakat.
Gus Imam Muslim (Branang, Lekok): Sebagai ulama muda lokal, beliau berhasil merekatkan emosional warga melalui penyampaian yang segar dan penuh motivasi.
Kombinasi ketiga figur ini membuat durasi pengajian berjam-jam terasa cepat bagi jemaah yang menyerap setiap untaian nasihat.
Sinergi Panitia dan Swadaya MasyarakatDi balik kelancaran arus lalu lintas, ketertiban saf, hingga kenyamanan konsumsi, ada kerja keras panitia yang bergerak senyap namun taktis.
Citra panitia di mata publik tercermin dari kemampuan mereka merangkul seluruh elemen masyarakat Desa Branang.Warga tidak sekadar menjadi penonton.
Mereka terlibat aktif menjaga keamanan, menyediakan hidangan, dan memastikan kebersihan lokasi. Partisipasi masif inilah yang menjadi bahan bakar utama suksesnya acara ini tanpa ada kendala teknis yang berarti.
Haul Bujuk Abdullah dan Mbah Siti Rubai’yah tahun ini sukses meletakkan standar baru: bahwa acara keagamaan tradisional, jika dikelola dengan manajemen kepanitiaan yang profesional dan didukung ketulusan masyarakat, akan melahirkan syiar Islam yang anggun, tertib, dan menggerakkan hati.













