BANDA ACEH ( DERAP KEADILAN.COM ) – Ikatan Muslimin Aceh Meudaulat (IMAM) mengajak seluruh lapisan masyarakat dan pemangku kepentingan untuk menghentikan polemik terkait pengibaran bendera Bintang Bulan dalam aksi kemanusiaan baru-baru ini. Ketua IMAM menegaskan bahwa saat ini Aceh sedang dalam kondisi darurat pemulihan pasca-banjir, sehingga fokus utama harus tertuju pada bantuan warga, bukan pada perdebatan atribut.
Meninjau Dasar Hukum dan Transparansi
Dalam keterangannya, Ketua IMAM mempertanyakan landasan hukum yang memicu keributan tersebut. Ia menilai jika merujuk pada poin-poin kesepakatan damai MoU Helsinki dan Undang-Undang Pemerintahan Aceh (UU PA), tidak ada aturan yang dilanggar secara eksplisit dalam konteks tersebut.
Kami mempertanyakan, apakah pengibaran bendera Bintang Bulan itu melanggar MoU Helsinki atau UU PA? Kalau tidak dilarang, kenapa harus diributkan? Jangan sampai energi kita habis untuk hal yang tidak substansial,” ujar Ketua IMAM.
Ia juga menjelaskan bahwa penggunaan atribut organisasi saat penyaluran bantuan merupakan praktik standar sebagai bentuk transparansi dan pertanggungjawaban kepada para donatur. Atribut tersebut menjadi bukti dokumentasi bahwa amanah bantuan telah sampai kepada yang berhak.
Skala Dampak Banjir yang Mengkhawatirkan
IMAM menyoroti fakta di lapangan bahwa ribuan warga Aceh kehilangan harta benda, ternak, hingga lahan pertanian. Mengingat belum adanya status bencana nasional, IMAM membagi fokus pemulihan menjadi tiga fase krusial:
Jangka Pendek: Pemenuhan logistik dan kebutuhan dasar bagi ribuan pengungsi.
Jangka Menengah: Perbaikan infrastruktur rusak yang membutuhkan waktu bertahun-tahun.
Jangka Panjang: Pemulihan ekonomi rakyat yang terdampak secara sistemik.
Seruan Persatuan: Sapu Kheun, Sapu Pakat
Menutup pernyataannya, IMAM menyerukan semangat persaudaraan agar tidak ada pihak yang memperkeruh suasana di tengah duka masyarakat.
Mari kita kedepankan prinsip sapu kheun, sapu pakat, sang senasab me-adoe a (satu kata, satu mufakat, bagai saudara kandung). Fokus kita adalah meringankan beban korban, bukan meributkan atribut yang justru memecah belah konsentrasi kemanusiaan,” pungkasnya.
>>>>>>>>{ RIMUNG }















