BeritaDaerahEkonomiHot NewsNasionalPemerintahPolitikPolri-TNISosialTerkini

Nyaris Terhenti di Garis Akhir, UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA (UMI) Makassar, Bantu 121 MAHASISWA Lewat Skema Afirmasi Senilai Rp1,599 Miliar

14
×

Nyaris Terhenti di Garis Akhir, UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA (UMI) Makassar, Bantu 121 MAHASISWA Lewat Skema Afirmasi Senilai Rp1,599 Miliar

Sebarkan artikel ini

SULSEL_MAKASSAR — Tidak Semua Perjuangan Menuju Gelar’ Berakhir Ketika Skripsi, Tesis, Atau disertasi Selesai. Bagi Sebagian MAHASISWA, Langkah Terakhir Justru Menjadi yang Paling Berat Ketika Persoalan Ekonomi Datang Di Penghujung Perjalanan Akademik.

UNIVERSITAS MUSLIM INDONESIA (UMI) Berupaya Memastikan Persoalan Tersebut Tidak Menjadi Alasan MAHASISWA Kehilangan Kesempatan Untuk Menyelesaikan Studinya. Melalui Bantuan BEASISWA AFIRMASI Penyelesaian Studi Senilai Rp1,599 Miliar, UMI Membebaskan Tunggakan Hingga Biaya Ujian Akhir Bagi 121 MAHASISWA Dari Jenjang SARJANA, MAGISTER Hingga DOKTOR.

Pasang Iklan Disini:
Mitra Kerjasama Dengan kami Klik E-katalog Disini:

Rektor UMI Prof. Dr. H. HAMBALI THALIB, SH., MH. mengungkapkan, penerima bantuan tersebut kini dapat melangkah ke panggung Wisuda Kedua UMI Tahun 2026, setelah sebelumnya berada dalam situasi yang membuat penyelesaian studi mereka terancam tertunda.

“Di balik angka 121 mahasiswa tersebut, terdapat persoalan yang beragam. Sebagian kehilangan orang tua ketika masih menjalani studi. Ada pula yang keluarganya kehilangan pekerjaan, mengalami penurunan pendapatan, atau menghadapi persoalan usaha,” ungkap Prof Hambali pada wisuda periode kedua tahun 2026 di Claro Hotel, Makassar, 27-28 Agutus 2026.

“Sebagian lainnya harus menghadapi persoalan kesehatan, perceraian dalam keluarga, hingga tekanan ekonomi yang muncul ketika masa studi hampir selesai,” sambung Guru Besar Fakultas Hukum UMI tersebut.

Bagi UMI, kondisi tersebut tidak semata-mata dipandang sebagai persoalan pembayaran biaya pendidikan. Di dalamnya terdapat risiko terhentinya perjalanan akademik mahasiswa yang sesungguhnya telah berada di depan garis akhir.

Masalah mahasiswa harus diketahui sebelum terlambat. Bantuan harus diupayakan sebelum mahasiswa menyerah. Demikian prinsip yang menjadi pijakan UMI dalam memberikan bantuan afirmasi tersebut,” jelasnya.

Kebijakan itu menunjukkan bahwa keberpihakan kepada mahasiswa tidak berhenti pada penyediaan ruang belajar dan layanan akademik. UMI juga berupaya memastikan mahasiswa yang menghadapi persoalan serius tetap memiliki kesempatan untuk menyelesaikan pendidikan dan meraih gelar yang telah diperjuangkan selama bertahun-tahun.

Dari Menolong di Ujung Perjalanan, Menuju Sistem yang Mencegah Sejak Awal

Pengalaman menangani mahasiswa yang menghadapi persoalan di penghujung studi juga mendorong UMI untuk membangun sistem yang mampu bekerja lebih awal.

Semangat tersebut diwujudkan melalui UMI Connection, sebuah inisiatif transformasi layanan mahasiswa yang dirancang untuk mengintegrasikan data dan layanan dalam satu ekosistem. Pada Rabu, 26 Agustus 2026, UMI melakukan groundbreaking Gedung UMI Connection sebagai penanda dimulainya babak baru dalam pengelolaan layanan mahasiswa.

Baca Juga:  Wakapolres Kudus Tinjau Pengamanan Wisata Air Logung Saat Libur Nataru

UMI Connection mengusung konsep One Access, One Data, One Process, yang diarahkan untuk menyederhanakan akses layanan, mengintegrasikan data, serta mempercepat proses pengambilan keputusan.

Di dalam ekosistem tersebut, UMI juga mengembangkan Executive AI Dashboard sebagai instrumen untuk membaca kondisi institusi melalui data secara lebih cepat dan terukur. Dengan dukungan data terintegrasi, persoalan mahasiswa diharapkan tidak lagi diketahui setelah menjadi masal. Pendekatan inilah yang kemudian diarahkan UMI sebagai bagian dari konsep “Universitas Preventif”, universitas yang tidak menunggu mahasiswa berhenti atau gagal menyelesaikan studi untuk kemudian bertindak, tetapi berupaya mengenali persoalan sejak dini dan melakukan intervensi secara tepat, bertanggung jawab, dan manusiawi.

“Satu Data harus melahirkan Satu Kepedulian,” menjadi semangat yang digaungkan dalam pembangunan UMI Connection.

121 Nama yang Kembali Menatap Garis Akhir

Wisuda Kedua UMI Tahun 2026 pun menjadi momentum penting untuk melihat bagaimana sebuah kebijakan dapat mengubah akhir dari sebuah perjalanan.

Di antara para wisudawan yang mengenakan toga, terdapat nama-nama mahasiswa yang sebelumnya menghadapi hambatan finansial untuk menuntaskan ujian akhir. Melalui bantuan afirmasi, 121 mahasiswa tersebut memperoleh kesempatan untuk menyelesaikan tahapan terakhir pendidikan mereka.

Bagi mereka, bantuan senilai Rp1,599 miliar itu bukan sekadar angka dalam laporan keuangan. Bantuan tersebut menjadi jembatan antara sebuah perjalanan akademik yang nyaris tertunda dan sebuah gelar yang akhirnya dapat diraih.

Bagi UMI, keberhasilan mengantarkan para penerima bantuan menuju wisuda juga menjadi pengingat bahwa pendidikan tidak hanya berbicara tentang bagaimana mahasiswa masuk ke perguruan tinggi, tetapi juga bagaimana mereka dapat bertahan, menyelesaikan studi, dan keluar sebagai lulusan.

Karena itu, beasiswa afirmasi dan UMI Connection berada dalam satu garis kebijakan: yang pertama menyelamatkan mahasiswa ketika berada di titik kritis, sementara yang kedua dibangun agar titik kritis itu dapat dikenali dan ditangani sedini mungkin.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah perguruan tinggi bukan hanya berapa banyak mahasiswa yang diterima atau berapa banyak lulusan yang dihasilkan. Ada pula pertanyaan yang lebih mendasar: berapa banyak mahasiswa yang berhasil dipertahankan ketika mereka hampir menyerah?

Bagi 121 mahasiswa penerima bantuan afirmasi UMI, jawabannya kini terpampang di balik toga dan gelar yang mereka sandang. Mereka tidak berhenti beberapa langkah sebelum garis akhir.

[ Editor: M.NJIB ]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 728x250 Example 728x250 Example 728x250