BeritaDaerahEkonomiHot NewsNasionalPemerintahPolitikPolri-TNISosialTerkini

Menakar Profesionalisme: Antara Fakta Lapangan dan Narasi Berulang di BUMDes Gejugjati

19
×

Menakar Profesionalisme: Antara Fakta Lapangan dan Narasi Berulang di BUMDes Gejugjati

Sebarkan artikel ini

Jurnalis: nawangsari.

Up to date : 10/03/2026

PASURUAN – Derap Keadilan // Integritas sebuah karya jurnalistik kembali diuji melalui arus informasi yang beredar mengenai Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Gejugjati. Meski pihak berwenang telah melakukan tindakan tegas, sejumlah narasi lama terkait dugaan peredaran minuman keras (miras) dan praktik perjudian terus diproduksi oleh beberapa media, memicu pertanyaan besar mengenai disiplin verifikasi di ruang redaksi.

 

Fakta yang Telah Diselesaikan

Berdasarkan data lapangan dan konfirmasi resmi, segala bentuk pelanggaran yang sebelumnya sempat terindikasi di lokasi tersebut telah ditindaklanjuti secara tuntas oleh Satpol PP dan Aparat Penegak Hukum (APH). Langkah-langkah preventif serta sanksi administratif telah dijalankan, memastikan bahwa operasional BUMDes saat ini berjalan sesuai dengan regulasi yang berlaku.

Baca Juga:  WAKIL BUPATI Wajo Hadiri High Level Meeting Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sulawesi Selatan

Disiplin Verifikasi: Roh Jurnalistik yang Terlupakan

Sesuai dengan Pasal 3 Kode Etik Jurnalistik, jurnalis wajib menguji informasi dan memberitakan secara berimbang tanpa mencampurkan fakta dengan opini yang menghakimi. Penulisan berita yang dilakukan secara “bertubi-tubi” tanpa menyertakan fakta terbaru—bahwa masalah tersebut sudah ditindaklanjuti—mengindikasikan adanya pengabaian terhadap elemen penting dalam berita, yakni sifat faktual dan aktual.

 

“Verifikasi adalah hukum besi dalam jurnalisme. Menulis tanpa cek lokasi bukan hanya menyesatkan publik, tetapi juga mencederai nama baik institusi yang sudah berbenah,” ujar pengamat media dalam sebuah diskusi Pentingnya Kode Etik Jurnalistik.

Bahaya Penggiringan Opini

Munculnya pemberitaan yang cenderung menggiring opini untuk kepentingan pribadi sering kali dipicu oleh keinginan meraih traffic cepat atau adanya agenda tertentu. Padahal, tujuan utama penulisan berita seharusnya memberikan wawasan yang akurat dan bermanfaat bagi masyarakat, bukan sekadar memuaskan sentimen subjektif penulisnya.

Baca Juga:  Menguak Tabir Wartawan dan LSM Gadungan : Menulis Judi Bukan Demi Kebenaran, Tapi Dendam dan “Back-up” Bandar Lain?

 

Ketidakhadiran jurnalis di lokasi kejadian untuk memantau perkembangan terbaru (update) menyebabkan berita kehilangan relevansi. Dalam dunia pers, setiap subjek berita memiliki Hak Jawab untuk meluruskan informasi yang merugikan nama baik mereka akibat pemberitaan yang tidak akurat.

 

Masyarakat diharapkan lebih kritis dalam memilah informasi, memastikan bahwa media yang dikonsumsi adalah media yang menerapkan standar tinggi dalam pengecekan akurasi dan transparansi sumber informasi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *