BeritaDaerahEkonomiHot NewsNasionalPemerintahPolitikPolri-TNISosialTerkini

Milad Samudera Pasai ke-800: Antara Gemilang Sejarah dan Kerinduan akan Keanggunan Adab

47
×

Milad Samudera Pasai ke-800: Antara Gemilang Sejarah dan Kerinduan akan Keanggunan Adab

Sebarkan artikel ini

Aceh Utara ( DerapKeadilan.com ) – Delapan ratus tahun peradaban yang bercahaya diperingati dengan semarak yang membahana. Lapangan Landing menyambut hadirin bagaikan lautan kasih atas kejayaan Samudera Pasai, benteng pertama Islam di Nusantara. Namun, di balik riuh sukacita perayaan itu, terselip secercah renungan halus yang mengemuka di tengah masyarakat yang merindukan kesucian warisan leluhur.

Saat cahaya panggung beralih ke malam penutupan, perhatian tertuju pada irama yang bergema. Pertunjukan musik yang hadir mempertemukan kita dengan pemandangan di mana kerumunan pria dan wanita menyatu dalam riuh kegembiraan. Suasana ini bagaikan angin yang menyapa, namun membawa pertanyaan sunyi: apakah kita telah melenggang jauh dari syariat yang menjadi fondasi tegaknya kerajaan suci ini? Perdebatan pun tumbuh bukan untuk memadamkan kemeriahan, melainkan menuntut keharmonisan antara kenangan agung dan adab yang terjaga.

Pasang Iklan Disini:
Mitra Kerjasama Dengan kami Klik E-katalog Disini:

Pesan Luhur di Tengah Keramaian

Di tengah gegap gempita, Bupati Aceh Utara, Ismail A. Jalil atau yang akrab disapa Ayahwa, mengukir penghargaan yang tulus bagi setiap tangan yang bekerja dan hati yang hadir. Beliau mengingatkan kita dengan lembut namun tegas: Samudera Pasai bukan sekadar nama yang terukir di lembaran masa lalu, melainkan napas dan jati diri kita yang paling dalam.

Baca Juga:  Ops Zebra Candi 2025, Satlantas Polres Sragen Sosialisasi Keselamatan Berkendara di PT Glory Industrial Semarang

Janganlah pesta ini menjadi batas penghabisan,” ujarnya dalam bahasa ibu yang syahdu. “Mari kita rawat bumi ini, lestarikan budi pekerti luhur, dan pelihara nilai-nilai suci yang diwariskan para pendahulu.” Kata-kata indah ini bagaikan pelita yang menyinari jalan, namun sayangnya cahayanya terasa samar di hadapan suasana penutup yang terlepas dari ikatan keanggunan dan kesusilaan.

Pertanyaan akan Keselarasan dan Adab

Suara kegelisahan pun bergema di sanubari masyarakat yang mencintai budaya dan agama. Bukan berniat membenci seni atau melarang keindahan nada, namun menginginkan kesesuaian yang pantas bagi peringatan agung ini.

Sungguh menyayat hati melihat penutup sejarah yang mulia ini tidak dihiasi lantunan zikir dan shalawat yang mendamaikan jiwa, melainkan dengan keriuhan di mana batas adab seakan luntur terbawa suasana,” ucap mereka dengan penuh hormat. “Kami tidak menolak kemeriahan, namun bertanya: di mana letak keistimewaannya dibandingkan pesta biasa? Apakah luhurnya ajaran yang menjadi jiwa Samudera Pasai telah terabaikan di sini?”

Renungan ini menjadi cermin jernih bagi kita semua: dalam memuliakan masa lalu yang gemilang, kita dipanggil untuk tetap berpijak pada kemurnian dan adab yang menjadikan kerajaan ini pernah bersinar terang bagaikan mentari timur, pelita yang tak redup oleh waktu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 728x250 Example 728x250 Example 728x250