BeritaDaerahEkonomiHot NewsNasionalPemerintahPolitikPolri-TNISosialTerkini

Delapan Abad Warisan Pasai: Menanam Kehidupan di Tanah Sultanah  

38
×

Delapan Abad Warisan Pasai: Menanam Kehidupan di Tanah Sultanah  

Sebarkan artikel ini
Oplus_131072

Aceh Utara ( DerapKeadilan.com ) – Di bawah teduh kanopi pepohonan tua yang memeluk Kompleks Makam Putroe Nahrisyah, masa lalu menyapa masa depan dalam keheningan yang bermakna. Jumat, 11 September 2026, menjadi hari penutup yang penuh jiwa bagi perayaan Milad ke-800 Kerajaan Samudera Pasai. Bupati Aceh Utara, Ismail A. Jalil—atau yang akrab dipanggil Ayahwa—melangkah rendah hati ke situs suci di Gampong Kuta Krueng, Kecamatan Samudera.

Bukan kemegahan pesta atau pidato yang menggeletar yang dibawanya, melainkan hal yang bersahaja namun abadi: cangkul untuk berkarya, 800 bibit pohon sebagai tanda kelestarian, serta santunan tulus bagi anak yatim dan warga sekitar. Angka delapan ratus tahun peradaban Islam di ujung Nusantara ini tidak dibiarkan menjadi sekadar kenangan, melainkan ditanam kembali ke dalam bumi agar terus tumbuh.

Pasang Iklan Disini:
Mitra Kerjasama Dengan kami Klik E-katalog Disini:

Jejak Keagungan Sang Pemimpin Wanita

Pilihan tempat ini bukan kebetulan, melainkan penghormatan mendalam. Sultanah Nahrasiyah (1406–1428 M) bukan sekadar penguasa biasa; sebagai keturunan Sultan Malikussaleh, ia memimpin Samudera Pasai menuju puncak kejayaan dalam ekonomi, ilmu pengetahuan, dan persaudaraan Islam se-Tenggara Asia.

Nisan marmer berukir kaligrafi Kufi yang menghiasi makamnya—wafat pada 17 Zulhijjah 831 H—adalah saksi bisu kemegahan seni dan budaya masa keemasan. Berkunjung ke sini bukan sekadar ziarah, melainkan menautkan kembali cahaya masa lalu dengan jalan pembangunan masa kini. Di satu titik ini, menjaga warisan leluhur, merawat alam, dan mengasihi sesama menyatu dalam satu napas yang utuh.

Baca Juga:  Patroli Dialogis di Pasar Batuphat Timur, Polsek Muara Satu Cegah Guantibmas

Dari Simbol Menuju Janji Lintas Masa

Di balik keindahan simbolisme ini, tantangan yang sesungguhnya baru saja dimulai. Menanam 800 pohon adalah permulaan yang mulia, namun memastikan mereka tumbuh rindang, kokoh, dan memberi nafas bagi generasi mendatang membutuhkan ketekunan yang tak putus dan janji yang dijaga.

Masyarakat Aceh Utara berharap gerakan ini tidak menjadi sekadar acara sesaat. Di tengah derasnya langkah zaman, perpaduan antara menjaga cagar budaya, melindungi alam, dan mengangkat derajat warga diharapkan menjadi fondasi kebijakan yang kokoh dan terukur.

Delapan abad telah berlalu sejak Samudera Pasai pertama kali bersinar. Kerajaan boleh berganti zaman, namun ukuran keberhasilan sebuah perayaan bukan pada riuhnya kemeriahan, melainkan pada apa yang tetap hidup dan bermanfaat bagi rakyat setelah panggung dibubarkan.

Dari tanah Kuta Krueng yang bersejarah ini, sebuah pesan kini telah berakar: sejarah kita lestarikan dengan ingatan, alam kita jaga dengan perbuatan, dan sesama kita cintai dengan kepedulian yang tulus.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 728x250 Example 728x250 Example 728x250