BeritaDaerahEkonomiHot NewsNasionalPemerintahPolitikPolri-TNISosialTerkini

WARGA GAMPONG GEUREUGEK UNGGAH KEPRIHATINAN: MAKANAN MBG TIDAK SESUAI STANDAR, DIDUGA PENYALAHGUNAAN DANA

50
×

WARGA GAMPONG GEUREUGEK UNGGAH KEPRIHATINAN: MAKANAN MBG TIDAK SESUAI STANDAR, DIDUGA PENYALAHGUNAAN DANA

Sebarkan artikel ini
Oplus_131072

ACEH UTARA ( DERAP KEADILAN.COM ) — Warga Gampong Geureugek, Kecamatan Paya Bakong, Kabupaten Aceh Utara, menyampaikan kekhawatiran terkait pemberian Makanan Bergizi (MBG) yang diduga tidak memenuhi standar dan anggaran dari pusat. Mereka menilai makanan yang diberikan selama tiga hari tidak sesuai harapan dan belum memenuhi kebutuhan gizi khusus bagi balita dan lansia.

 

Saya tidak bisa menyebutkan nama, tapi menu yang diberikan jauh dari standar yang seharusnya. Anggaran dari pusat seharusnya bisa memberikan makanan yang lebih bergizi dan cukup untuk tiga hari, terutama bagi balita dan lansia yang membutuhkan nutrisi khusus,” ujar salah satu warga yang enggan disebutkan.

 

Rincian menu yang diterima termasuk satu bungkus roti, satu bungkus nasi, dua butir telur ayam, dua belas buah kurma, dan dua bungkus kacang, dengan perkiraan harga total hanya Rp 15.000. Padahal, berdasarkan standar, anggaran MBG per orang per hari untuk balita sekitar Rp 8.000 dan untuk lansia sekitar Rp 10.000, sehingga untuk tiga hari seharusnya dialokasikan minimal Rp 24.000 sampai Rp 30.000 per orang.

Baca Juga:  Bupati Semarang Kecam Kelompok Anarko saat Demo May Day di Kota Semarang

 

Menu ini tidak hanya di bawah perkiraan biaya, tapi juga tidak memenuhi kebutuhan nutrisi penting seperti protein, kalsium, dan zat besi, serta tekstur dan kandungan serat yang sesuai bagi lansia,” tambah warga.

 

Selain itu, sejumlah warga juga mengungkapkan kekesalan terkait minimnya nilai dan gizi makanan. Salah satu warga yang tidak mau disebutkan namanya melaporkan kepada awak media (Derap keadilan.com) bahwa bantuan yang diterima siswa pada program ini hanya senilai Rp 15.000 selama tiga hari, yang dianggap sangat tidak wajar dan menunjukkan adanya kemungkinan praktik penyalahgunaan dana.

 

Dulu, saat program diluncurkan pada September 2025, siswa mendapatkan makanan langsung seperti nasi, ayam semur, tempe goreng, tumis labu, dan buah anggur. Sekarang, justru bantuan ini jauh dari standar dan malah menimbulkan kecurigaan adanya penyelewengan,” kata warga.

Baca Juga:  Bentuk Sikap Prajurit Yang Berdisiplin, Dandim 1710/Mimika Beri Pengarahan Kepada Segenap Prajurit dan PNS Kodim

 

Para warga dan wali murid meminta kepada pemerintah untuk segera melakukan verifikasi langsung ke dapur penyedia MBG dan lokasi penyimpanan dana. Mereka juga mendesak pemerintah melakukan pemeriksaan keuangan dan transparansi penggunaan dana agar program ini benar-benar berjalan sesuai tujuannya—meningkatkan gizi dan kesehatan anak dan warga.

 

Hingga berita ini dipublikasikan, pihak Dinas Pendidikan Kabupaten Aceh Utara dan pelaksana program MBG belum memberikan tanggapan resmi terkait keluhan masyarakat maupun klaim penyalahgunaan dana dan makanan tidak bergizi tersebut. Masyarakat berharap adanya tindakan tegas untuk memastikan program berjalan sesuai standart dan tidak ada lagi praktik penyimpangan.

 

Penulis>{ Rimung }

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *