ACEH UTARA, ( DerapKeadilan.com ) – 28 Mei 2026 – Suara keras dan kemarahan kembali meledak dari Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Asosiasi Pewarta Pers Indonesia (APPI) Aceh Utara, Muhammad yang akrab disapa Rimung Buloh. Ia menegaskan sikap tegas dan pendiriannya yang tak tergoyahkan: sampai kapan pun pihaknya tidak akan berhenti menyoroti, mengawasi, dan menuntut perubahan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cut Meutia. Pengawasan ini akan terus dilakukan tanpa henti sampai pelayanan berubah total dan hak-hak masyarakat terpenuhi sepenuhnya.
Lebih jauh, Rimung Buloh menegaskan keberaniannya menghadapi siapa saja, termasuk pemerintah daerah, demi membela kebenaran. Ia pun menyindir tajam para pemimpin yang sudah menduduki jabatan tinggi, namun keberadaannya justru meresahkan, menyusahkan, dan menyakiti rakyat banyak.
Sampai kapan pun, selama belum ada perubahan, selama rakyat masih disusahkan dan dipermainkan, kami akan tetap sorot RSUD Cut Meutia ini. Kami tidak akan diam, kami tidak akan berhenti, dan kami tidak akan takut berhadapan dengan siapa pun, termasuk pemerintah sekalipun. Ingat pesan saya ini tegas-tegas: Kami berdiri di atas kebenaran demi masyarakat. Dan satu hal lagi: Jangan sudah duduk tinggi, sudah pegang jabatan besar, tapi justru meresahkan dan menyakiti rakyat sendiri. Itu pemimpin macam apa? Itu pelayanan macam apa?” bentak Rimung Buloh dengan suara menggelegar.
Masalah utama yang terus menjadi sorotan tajam adalah kedisiplinan dokter yang dinilainya sangat memalukan dan keterlaluan. Keluhan masyarakat sudah menumpuk bertahun-tahun namun tak kunjung ada perbaikan: para dokter, khususnya yang bertugas di Poli pasien kontrol ulang dan berobat jalan, baru datang ke rumah sakit pukul setengah sepuluh pagi, bahkan banyak yang lewat jam sepuluh pagi. Bukan baru mulai melayani jam segitu, TAPI BARU DATANG, baru masuk gerbang rumah sakit saat matahari sudah tinggi membakar kulit. Padahal, pasien sudah berdatangan sejak subuh, antre berdesak-desakan mulai dari balita yang menangis kesakitan, ibu hamil, hingga kakek-nenek lansia yang tubuhnya sudah lemah gemulai menunggu berjam-jam.
Saya sudah berkali-kali menegur, saya sudah pernah bicara langsung sama Direktur RSUD, Ibu Rohaya, tapi apa hasilnya? NOL BESAR! Tidak ada perubahan sedikit pun! Dokter-dokter itu masih saja santai, datangnya jam setengah sepuluh, ada yang lewat jam sepuluh pagi seolah rumah sakit itu kantor mereka sendiri, seolah rakyat yang sakit itu tidak punya hak dan waktu. Kalau sudah ditegur tapi tidak berubah, artinya apa? Artinya Direkturnya tidak punya wibawa, tidak tegas, atau memang ada dokter-dokter nakal yang merasa kebal hukum, merasa lebih hebat dari aturan negara! Ini penghinaan besar bagi warga Aceh Utara!” serangnya berapi-api.
Ia bersumpah tidak akan diam dan akan terus menekan pihak rumah sakit sampai darahnya habis, karena yang menjadi korban adalah rakyat kecil yang tidak berdaya. “Rakyat itu datang ke rumah sakit bukan untuk piknik, bukan untuk jalan-jalan cari angin. Mereka datang dari jauh, dari pedalaman, dari desa-desa, dalam keadaan sakit, demam, nyeri, dan butuh pertolongan cepat. Kalau tidak sakit, mana mungkin mereka mau susah payah antre berjam-jam dari pagi buta! Tapi apa balasannya? Dokternya baru muncul jam setengah sepuluh, jam sepuluh lebih. Apakah nyawa rakyat ini murah? Apakah rasa sakit mereka tidak ada harganya di mata para dokter dan pejabat itu?” hardiknya.
Rimung Buloh juga menyerang tajam sikap Bupati Aceh Utara, H. Ismail A. Jalil, SE., MM, yang dinilainya hanya pandai bicara manis di depan kamera. “Pak Bupati itu kalau bicara di media, katanya tegas, katanya peduli rakyat, katanya pembangun daerah. ITU CUMA OMONG KOSONG! Jangan cuma jago ngomong tegas di depan wartawan saja! Coba sekali-kali Bapak turun diam-diam ke RSUD Cut Meutia jam 7 pagi, jam 8 pagi, lihat sendiri penderitaan rakyat yang mengantre berdesak-desakan, lalu lihat jam berapa dokternya datang. Kalau memang Bapak sayang masyarakat, jangan cuma janji manis di mulut saja, mana buktinya? Jangan sampai rakyat menganggap Bapak dan jajarannya cuma pandai pidato, tapi bungkam dan tutup mata melihat penderitaan nyata di lapangan!” serangnya dengan nada menantang.
Belum cukup sampai di situ, ada luka lain yang lebih parah yang membuat darah mendidih. Banyak pasien yang sudah dijadwalkan operasi secara resmi, sudah diberitahu tanggal pastinya, sudah datang bermalam-malam dari desa terpencil, sudah menyiapkan biaya dan mental, eh tiba-tiba disuruh pulang. Alasannya selalu sama dan klise: “Tidak ada kamar kosong”. Padahal jadwal operasi itu yang buat pihak rumah sakit sendiri!
Ini penipuan berkedok pelayanan kesehatan! Ini perlakuan tidak manusiawi! Pasien sudah siap dibedah, sudah datang jauh-jauh, tiba-tiba disuruh pulang cuma karena alasan tidak ada kamar. Apa ini main-main? Apakah nyawa manusia itu bisa dipermainkan begitu saja? Bagaimana kalau itu keluargamu, Pak Bupati? Bagaimana kalau itu anakmu, orang tuamu yang sakit? Apakah Bapak masih diam saja?!” tanyanya keras.
Di akhir pernyataannya, Rimung Buloh kembali menegaskan janjinya yang tak akan tergoyahkan dan memberikan peringatan keras kepada seluruh jajaran pemerintah dan dinas terkait.
Jangan tutup mata dan telinga lagi! Jangan berpikir rakyat itu diam berarti terima diinjak-injak begitu saja. Kami dari APPI tidak akan pernah berhenti mengawal masalah ini sampai kapan pun, sampai ada sanksi nyata, sampai ada pemecatan kalau perlu, bagi siapa saja yang melalaikan tugas. Kami minta dokter masuk jam kerja yang benar, jam 7 pagi sudah ada di tempat, tidak boleh lagi datang jam setengah sepuluh atau lewat jam sepuluh seperti kebiasaan buruk selama ini.
Ingat baik-baik: Kami tidak takut lawan pemerintah, kami tidak takut lawan siapa pun, asalkan kami memperjuangkan kebenaran. Jangan jabatan tinggi tapi meresahkan masyarakat! Kalau pemimpinnya diam saja, berarti pemimpinnya juga bersalah. Jangan paksa kami bawa masalah ini ke tingkat yang lebih keras lagi, sampai ke telinga Gubernur dan Menteri, supaya kalian semua sadar bahwa rakyat Aceh Utara tidak mau lagi ditipu dan dipermainkan!” pungkas Rimung Buloh penuh tekad dan ancaman nyata demi keadilan masyarakat.












