BeritaDaerahEkonomiHot NewsNasionalPemerintahPolitikPolri-TNISosialTerkini

Gerak Cepat SATGAS SAR Kota Lhokseumawe Tanggapi Laporan Korban yang Tenggelam di Kawasan Kuala Desa Lancok, Begini Kronologinya?

23
×

Gerak Cepat SATGAS SAR Kota Lhokseumawe Tanggapi Laporan Korban yang Tenggelam di Kawasan Kuala Desa Lancok, Begini Kronologinya?

Sebarkan artikel ini

Aceh Utara, Lhokseumawe – Warga Desa Lancok, Kecamatan Syamtalira Bayu, Aceh Utara, digegerkan dengan peristiwa tragis tenggelamnya seorang siswa SMP bernama Rajulul Aula (15) pada Jumat sore 13 Februari 2026. Di tengah upaya pencarian yang penuh kepanikan, Kapolsek Syamtalira Bayu AKP Gunanto beserta jajaran menunjukkan kesigapan luar biasa dengan turun langsung ke lokasi kejadian, bersama dengan seorang anggota Koramil Bayu, Komandan AIRUT Lhokseumawe Edwin, dan beberapa anggotanya. Namun, kekecewaan mendalam dirasakan warga karena Tim SAR Aceh Utara tidak kunjung datang, sementara Tim SAR Lhokseumawe malah asyik nongkrong di warung kopi.

 

Rajulul Aula, siswa Kelas III SMP asal Desa Blang Bayu, dilaporkan hilang setelah tenggelam di kawasan Kuala Desa Lancok sekitar pukul 18.00 WIB. Kabar ini sontak membuat panik warga sekitar dan keluarga korban, Junaidi (ayah) dan Siti Zalikha (ibu).

 

Merespon cepat laporan tersebut, Kapolsek Syamtalira Bayu AKP Gunanto beserta jajaran yang terdiri dari Kanit IK, Kanit Res, Kanit Binmas, dan Bhabinkamtibmas langsung terjun ke lokasi kejadian. Mereka bahu-membahu bersama warga melakukan upaya pencarian tanpa kenal lelah. Tak hanya itu, seorang anggota Koramil Bayu, serta Komandan AIRUT Lhokseumawe Edwin beserta beberapa anggotanya juga turut hadir di lokasi untuk memberikan dukungan dan membantu proses pencarian.

 

Sementara itu, SATGAS SAR Kota Lhokseumawe menanggapi isu yang beredar menjelaskan bahwa — Satgas SAR Kota Lhokscumawe pada Pukul 18.45 WIB mendapatkan informasi dari Geuchik atas nama Yanda bahwa telah terjadi kondisi yang membahayakan nyawa manusia di Kawasan Wisata Pantai Lancok. Namun karena Lokasi kejadian tersebut merupakan wilayah Kabupaten Aceh Utara, selanjutnya Satgas SAR Kota Lhokseumawe meneruskan informasi tersebut ke Satgas SAR Kabupaten Aceh Utara serta melaporkan kejadian tersebut ke Pos Basarnas Bireuen.

 

>> “Namun pada pukul 19.15 WIB, Geuchik menelfon kembali meminta agar Satgas SAR Kota Lhokseumawe segera turun ke TKP. Dengan pertimbangan kemanusiaan Satgas SAR Kota Lhokseumawe mengirim 6 Personil Rescuer yang dipimpin langsung oleh Kasatgas SAR Kota Lhokseumawe. Kondisi Peralatan/Perlengkapan baik itu Water Rescue (Pertolongan di Permukaan Air) maupun Under Water Rescue (Pertolongan di Kedalaman Air) yang dimiliki oleh Satgas SAR Kota Lhokseumawe dalam keadaan rusak berat dengan masih menunggu Anggaran Hibah dari Pemko Lhokseumawe yang sampai saat ini belum terealisasi, sehingga Satgas SAR Kota Lhokseumawe tidak memungkinkan menurunkan peralatan/perlengkapan demi keselamatan Rescuer.

 

Sesampai personil Satgas SAR Kota Lhokseumawe ke Tempat Kejadian Perkara (TKP), kemudian tim melakukan koordinasi dengan Pak Geuchik, Polsek, Koramil, Pihak Keluarga serta warga dan nelayan setempat.

 

Perlu digaris bawahi bahwa Standar Operasional Prosedur (SOP) pencarian malam hari merupakan bagian dari operasi Search and Rescue (SAR) yang menuntut kehati-hatian ekstra tinggi karena keterbatasan jarak pandang dan risiko keselamatan umum Pencarian pada malam hari tetap dapat dilaksanakan, terutama jika ada tanda-tanda kehidupan atau lokasi korban berpotensi untuk ditemukan, namun fokus utama adalah keselamatan tim SAR.

 

Berikut adalah garis besar SOP pencarian malam hari berdasarkan prinsip SAR:

 

1. Tahap Persiapan dan Keamanan (Safety First) 

 

Penilaian Situasi (Size-up): Sebelum tim diturunkan, pimpinan SAR harus menilai apakah pencarian malam aman. Jika cuaca buruk, medan terlaiu berbahaya, atau visibilitas nol, operasi ditunda hingga fajar.

 

Peralatan Khusus: Tim wajib menggunakan peralatan malam seperti senter high-power, lampu sorot, night vision goggles (jika tersedia), chem lights (stik cahaya), dan pelampung yang memiliki reflektor.

 

Kesehatan Tim: Personel harus dipastikan dalam kondisi fisik prima dan tidak mengalami kelelahan ekstrim (kelelahan meningkatkan risiko kecelakaan di malam hari).

 

Komunikasi: Memastikan alat komunikasi berfungsi baik, termasuk radio dengan GPS terintegrasi untuk melacak posisi tim.

 

2. Prosedur Operasional (Pencarian) 

 

Teknik Pencarian: Menggunakan teknik pencarian yang terstruktur (contoh: grid search’ atau line search) agar tidak ada area yang terlewat.

 

Pencarian Visual: Tim mengandalkan cahaya untuk memindai tanda-tanda korban ” (pakaian cerah, pantulan reflektor, atau sinyal cahaya dari korban).

 

Pencarian Suara: Menghentikan mesin kendaraan/kapal secara berkala untuk mendengarkan teriakan atau peluit minta tolong.

 

Tim Kecil: Pencarian malam sebaiknya dilakukan dalam tim kecil yang kompak (seringkali 2-3 orang) untuk memudahkan koordinasi dan pengawasan.

 

3. Tahap Evakuasi dan Medis 

 

Penanganan Korban: Jika korban ditemukan, prioritas adalah memberikan pertolongan pertama (triage) dan menjaga suhu tubuh korban agar tidak hipotermia.

 

Evakuasi Aman: Proses evakuasi dilakukan dengan kehati-hatian ekstra, menggunakan tandu atau peralatan khusus untuk medan sulit, terutama jika melalui jalur terjal atau perairan.

 

4. Tahap Pelaporan dan Penutupan 

 

Laporan Singkat: Setelah pencarian selesai, tim segera melaporkan hasil (nihil atau ditemukan) kepada Search Mission Coordinator (SMC).

 

Debricfing: Melakukan evaluasi singkat mengenai kendala di lapangan.

 

Pencatatan: Mendokumentasikan lokasi, waktu, dan temuan untuk bahan pencarian esok hari.

 

Catatan Penting: Pencarian malam sering kali tidak seefektif siang hari, schingga jika tidak ditemukan hasil yang signifikan, operasi biasanya dilanjutkan kembali saat fajar.

 

Berdasarkan pertimbangan garis besar SOP pencarian malam hari tersebut. maka Satgas SAR Kota Lhokseumawe menunggu Tim Satgas SAR Aceh Utara serta Tim Pos Basarnas Bireuen sampai ke Lokasi Kejadian mengingat mereka membawa alat yang lengkap untuk melakukan pencarian terhadap korban.

 

Namun sembari menunggu tim Pos Basarnas Bireuen dan Satgas SAR Aceh Utara “sampai ke lokasi, Ketua Satgas SAR bersama 2 personil melakukan koordinasi lebih lanjut dengan Pak Geuchik dan Tokoh Masyarakat di Warung Kopi dekat dengan lokasi kejadian dengan memerintahkan 3 personil lain memantau pihak keluarga bersama warga dan nelayan yang melakuan pencarian dengan menggunakan jarring.

 

Namun selang 15 menit kemudian, korban berhasil ditemukan, sedangkan Tim Pos Basarnas Bireuen masih terjebak macet di Jembatan Kutablang Bireuen sedangkan Satgas SAR Aceh Utara masih dalam perjalanan. Sehingga personil Satgas SAR Lhokseumawe memutuskan untuk segera melakukan Evakuasi terhadap korban yang dibantu oleh personil Polsek dan Koramil Syamialira Bayu serta warga/nelayan setempat dengan menggunakan 1 Unit Pick Up milik Satgas SAR Kota Lhokseumawe. Namun dikarenakan keluarga korban menolak untuk dilakukan visum, sehingga korban langsung kita pulangkan ke rumah duka dan kita serahkan ke pihak keluarga. (Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *