ACEH, ( DERAP KEADILAN.COM ) – 07 Desember 2025 – Di saat langit Aceh tampak kelabu, direndam hujan dan kesedihan akibat banjir yang melanda, sebuah cahaya lembut muncul dari kejauhan. Group Sabena Malaysia, dengan hati yang penuh rasa hormat dan kasih sayang, telah mengirimkan “banciak” – sebutan lokal untuk bantuan yang dipagari kasih – sebesar 40 ton, membawa harapan yang segar bagi mereka yang sedang merana di tanah rencong.
Bantuan ini bukan sekadar tumpukan barang, melainkan janji yang dipenuhi oleh para anggota Group Sabena di Malaysia – para putra dan putri Aceh yang jauh dari kampung halaman, tetapi hatinya selalu berdenyut sama dengan penderitaan saudara mereka. Di tengah perjalanan yang panjang, Ketuanya Saiful Bahri yang akrab disapa Bos Pon, didampingi penuh oleh Ketum Pas Akhyar Kamil, membuktikan bahwa ikatan persaudaraan tidak pernah putus meskipun jarak memisahkan.
Di dalam setiap ton bantuan itu, terkandung kehangatan yang tak ternilai: beras yang segar untuk memenuhi perut yang lapar, Indomie yang cepat disiapkan di tengah kondisi terbatas, minyak goreng yang menyemarakkan masakan rumahan, telor yang memberi kekuatan, air mineral yang menyegarkan jiwa, masker yang melindungi kesehatan, dan roti yang hangat – seolah-olah membawa suhu pelukan dari jauh. Yang paling berharga, beberapa unit sumur bor juga disiapkan dengan cermat, untuk menggali air bersih yang segar di tengah lautan lumpur – seperti menemukan mata air di padang gurun.
Petinggi Group Sabena – Datuk Mansur, Azhari Ismail, dan Saiful Kambing Golek – menjadi tulang punggung aksi ini. Mereka bekerja tanpa lelah, menyusun setiap detail agar bantuan tepat sasaran, walau jalan-jalan yang tergenang air dan lumpur yang dalam menjadi hambatan yang berat. Setiap langkah mereka dipandu oleh keinginan untuk meringankan beban, bukan hanya secara material, tapi juga emosional.
Tanpa keberanian Relawan Persaudaraan Aceh Seranto yang bekerja di tengah hujan dan kepanasan, banciak ini tak akan sampai ke pelosok-pelosok yang paling membutuhkan. Para relawan itu yang menjadi jembatan kasih, membawa bantuan dengan tanggung jawab, meskipun tubuh lelah dan baju basah kuyup. Mereka adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang membuat harapan tetap hidup.
Kami hanyalah perantara kasih,” ujar Bos Pon dengan nada yang penuh syukur, matanya memancarkan kebenaran. “Terima kasih kepada semua anggota Group Sabena di Malaysia yang telah membuka hatinya, kepada relawan yang memberikannya semua, dan kepada warga Aceh yang selalu kuat menghadapi cobaan. Semoga banciak ini bisa sedikit menghangatkan hati dan menjadi titik awal untuk bangkit kembali – seperti bunga rambat yang tumbuh kembali di atas reruntuhan.”
Di tengah kegelapan yang meliputi, aksi kemanusiaan ini menjadi bukti bahwa kasih sayang adalah bahasa yang dipahami semua hati. Ia mengalir seperti sungai yang tenang, menghapus lumpur kesedihan, dan menyemai benih harapan untuk hari esok yang lebih cerah – ketika langit Aceh akan kembali cerah, dan bumi yang terluluh lantak akan kembali menyemai kehidupan.;
penulis>>{ RIMUNG }















