BeritaDaerahEkonomiHot NewsNasionalPemerintahPolitikPolri-TNISosialTerkini

Karmila Sampaikan Aspirasi Aceh di Istana Negara, Tekankan Pencegahan Bencana dan Pemulihan Mental Masyarakat

10
×

Karmila Sampaikan Aspirasi Aceh di Istana Negara, Tekankan Pencegahan Bencana dan Pemulihan Mental Masyarakat

Sebarkan artikel ini

JAKARTA — Demisioner Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Bumi Persada, Karmila, mendapat kesempatan menyampaikan aspirasi secara langsung kepada Dr. H. Syahganda Nainggolan, M.T., yang disebut sebagai Kepala Badan Komunikasi Pemerintah Republik Indonesia (Bakom RI), di Istana Negara dalam rangkaian kegiatan Future Leaders Summit (FLS) 2026 pada 7–9 Oktober 2026.

Dalam kesempatan tersebut, Karmila menyuarakan sejumlah persoalan yang masih menjadi perhatian masyarakat Aceh pascabencana banjir. Ia menekankan bahwa penanganan bencana tidak boleh hanya berorientasi pada pembangunan kembali infrastruktur yang rusak, tetapi juga harus mencakup upaya pencegahan bencana, pemulihan ekonomi, keberlanjutan pendidikan, dan pemulihan kondisi psikologis masyarakat terdampak.

Pasang Iklan Disini:
Mitra Kerjasama Dengan kami Klik E-katalog Disini:

Menurut Karmila, bencana tidak berakhir ketika air surut dan masa tanggap darurat selesai. Di balik kerusakan rumah dan fasilitas umum, terdapat masyarakat yang masih berjuang memulihkan penghidupan, anak-anak yang membutuhkan kepastian pendidikan, serta keluarga yang menghadapi ketidakpastian ekonomi dan kecemasan terhadap kemungkinan bencana berulang.

Karena itu, ia menilai pemerintah perlu memperkuat langkah mitigasi dan pencegahan bencana melalui perlindungan lingkungan, perencanaan tata ruang berbasis risiko, sistem peringatan dini, edukasi kebencanaan, serta peningkatan kesiapsiagaan masyarakat. Upaya tersebut perlu menjadi bagian dari kebijakan jangka panjang agar risiko dan dampak bencana pada masa mendatang dapat dikurangi.

Selain aspek pencegahan, Karmila menyoroti pentingnya pemulihan ekonomi masyarakat. Warga terdampak membutuhkan dukungan agar dapat kembali bekerja, menjalankan usaha, memenuhi kebutuhan keluarga, dan membangun kembali kemandirian ekonomi. Di sektor pendidikan, pemerintah juga perlu memastikan anak-anak dapat melanjutkan pembelajaran dalam lingkungan yang aman dan memperoleh dukungan sesuai kebutuhan mereka.

Perhatian terhadap kesehatan mental masyarakat menjadi salah satu poin penting yang disuarakan Karmila. Menurutnya, dampak psikologis pascabencana tidak boleh diabaikan karena dapat dialami oleh berbagai kelompok usia, mulai dari anak-anak dan remaja, orang tua, hingga lanjut usia

Anak-anak dan remaja dapat mengalami ketakutan, kecemasan, serta kesulitan merasa aman setelah menghadapi bencana. Sementara itu, orang tua harus menghadapi tekanan untuk memulihkan ekonomi dan melindungi keluarga. Lansia juga memerlukan perhatian khusus, terutama ketika mengalami kehilangan, perubahan lingkungan tempat tinggal, atau keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan.

Baca Juga:  Polisi dan Warga Bangkitkan Akses, Jembatan Darurat di Rusip Antara Dibangun Lewat Gotong Royong

Karmila mendorong agar dukungan psikososial dan layanan kesehatan mental menjadi bagian dari program pemulihan pascabencana yang berkelanjutan. Pendampingan perlu melibatkan tenaga kesehatan, tenaga pendidikan, pemerintah daerah, dan unsur masyarakat, dengan pendekatan yang sesuai bagi setiap kelompok usia.

Baginya, pemulihan yang sesungguhnya bukan hanya tentang mengembalikan kondisi fisik seperti semula, tetapi juga membantu masyarakat membangun kembali rasa aman, harapan, dan kemampuan untuk menjalani kehidupan setelah bencana.

Aspirasi yang disampaikan Karmila diterima dengan baik oleh pihak Bakom RI. Dalam pertemuan tersebut, beliau menyampaikan bahwa aspirasi yang disampaikan akan ditindaklanjuti. Karmila berharap komunikasi tersebut menjadi langkah awal bagi perhatian lebih lanjut terhadap kebutuhan masyarakat Aceh, khususnya dalam pencegahan bencana dan pemulihan pascabencana secara menyeluruh.

Kesempatan tersebut sekaligus menjadi ruang bagi Karmila untuk membawa persoalan daerah ke tingkat nasional. Sebagai mahasiswa yang pernah memimpin BEM Universitas Bumi Persada, ia memandang bahwa mahasiswa memiliki tanggung jawab untuk menyampaikan persoalan masyarakat dan mengawal agar kebutuhan warga terdampak tidak terabaikan dalam proses pengambilan kebijakan.

“Pemulihan pascabencana tidak cukup hanya dengan membangun kembali apa yang rusak. Pemerintah juga perlu memperkuat pencegahan bencana dan memastikan masyarakat, dari anak-anak hingga lansia, mendapatkan perhatian serta dukungan untuk pulih secara fisik, ekonomi, sosial, dan mental,” demikian pesan yang ingin ditegaskan Karmila melalui aspirasi tersebut.

Melalui partisipasinya dalam Future Leaders Summit 2026, Karmila berharap aspirasi masyarakat Aceh tidak berhenti sebagai pembicaraan dalam sebuah forum, tetapi mendapat tindak lanjut yang nyata. Sebab, keberhasilan pemulihan bencana bukan hanya diukur dari berdirinya kembali bangunan yang rusak, melainkan juga dari kemampuan masyarakat untuk bangkit, melanjutkan pendidikan, memulihkan penghidupan, menjaga kesehatan mental, dan menghadapi masa depan dengan rasa aman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Example 728x250